Jum'at, 30/Juli/2010
 
Dari Relief Candi Borobudur
Sendra Tari The Golden Swan Bakal Digelar, 17-18 Juli



Ketua Pantia The Golden Swan, S Tonny Coason. Foto: RP/satuNews)


Selasa, 13 Juli 2010 | 18:32
JAKARTA - Berkorban dan menjadi teladan bagi orang lain. Itulah yang dapat dipetik dari pementasan Sendra Tari Modern “The Golden Swan” yang bakal di gelar pada 17-18 Juli yang akan datang di Jitec Mangga Dua Jakarta. Sendratari itu menceritakan kisah Mahahamsa Jataka yang diambil dari Sutta Pitaka, Kitab Suci Agama yang reliefnya terukir indah di Candi Borobudur.

”Ada pesan-pesan moral yang tidak terlalu ritual yang akan disampaikan pada pagelaran acara Sendratari Golden Swan ini. Penonton akan melihat sendiri bagaimana sebuah pesan persahabatan yang universal disampaikan di setiap fase cerita. Raja Angsa Mas berhasil memimpin bangsa dan membela bangsa serta membela kebenaran. Kearifan yang universal tersebut adalah contoh kepimpinan yang disampaikan oleh Golden Swan, si Raja Angsa,” kata Ketua Panitia sendratari Golden Swan, Tonny Coason di Jakarta, Selasa (13/7).

Dijelaskan dia, Bodhisattya Siddartha dalam kehidupan masa lampaunya pernah menyempurnakan paramita (kebajikan). Ia terlahir sebagai Raja Angsa Emas, bernama Dhataratta dengan patihnya Sumukha. Patih ini setia membela Rajanya, Angsa Emas ketika tertangkap. Meski ditangkap, Raja Angsa Emas menyaksikan Dharma kepada Raja Samyama dan Ratu Khema sehingga mereka mendapat kebijaksanaan dan melepas angsa tersebut.

Raja Angsa Emas kelak terlahir sebagai Bodhisattva Sidhartha dan menjadi Budha, Patih Angsa kelak menjadi Bhikkhu Ananda, Raja Samyama menjadi Bhikkhu
Sariputta, Ratu Kema menjadi Bhikkhuni Khema dan Pemburu kelak menjadi Sais atau Bhikkhu Channa.

Pentas The Golden Swan digarap oleh para ahli dibidangnya masing-masing, sebut saja Wilis R.E (Penulis Skenario berpengalaman), Tri Kumara Siddhi (Sutradara dan Koreografer) dan Theme Song “The Golden Swan” diciptakan oleh composer ternama dari Thailand, yaitu Mr Chamras Saewataporn yang sudah banyak menghasilkan banyak album favorit dan mengaransir lagu-lagu bagi penyanyi pop terkemuka di Indonesia.

Acara tersebut juga didukung oleh sekitar 100 penari dari siswa/i lulusan Institut Seni Tari Indonesia di Surakarta, siswa/i Narada International School Kosambi Cengkareng Jakarta Barat.

Meski demikian, Agar alur cerita tetap berbegang pada Kitab Jataka dan sesuai dengan tradisi Buddhis, maka semua naskah dan narasi diperiksa dengan teliti oleh YM Bhante Pannyavaro dan YM Bhante Jotidhammo. Rencananya sekitar 12.000 penonton akan menyaksikan pentas yang untuk pertama kalinya digelar ini.(RP)

[ Kembali ]
» Berita Terkait

 

 
 
| Redaksi | Info Iklan | Terms of use | Kotak Pos |  
satuNews.com | satuRiau.com