| |
» Editorial | Reaksi Roket Korut Berlebihan
Reaksi Roket Korut Berlebihan
Senin, 06 April 2009 | 22:46
Korea Utara akhirnya meluncurkan Roket Unha-2 dengan membawa satelit komunikasi eksperimen Kwangmyongsong. Meski dengan alasan program kedirgantaraan untuk tujuan damai, tapi langkah ini mengundang kecaman keras dunia internasional.
Peluncuran ini merupakan aksi lanjutan dimasa lalu. Pada Juli 2006, Korea Utara meluncurkan roket tipe Taepodong 2 dari pesisir timur negaranya. Jangkauan roket tipe ini dapat mencapai negara bagian Amerika Serikat Alaska. Meski, menurut keterangan AS, uji coba tersebut gagal.
Ternyata sekarang dugaan AS,Korsel dan Jepang terbukti. Rezim komunis Korut itu, Minggu kemarin meluncurkan roket jenis Taepodong-2 (Unha-2). Tetapi apakah ini terkait dengan program perakitan rudal nuklir balistiknya? Belum ada bukti kuat. Tetapi sebenarnya seberapa besar ancaman militer Korut bagi kawasan dan dunia?
Kekhawatiran dunia adalah wajar. Karena kemampuan Korut merakit senjata nuklir, jika saja itu dikawinkan dengan program peluncuran roket, maka akan menimbulkan bahaya besar, terutama bagi negara tetangga dekat, dan lebih khusus Jepang. Maka muncul sebuah resolusi PBB yang diluncurkan tahun 2006 melarang Korea Utara menguji coba roket balistik. Namun Korut bersikeras tetap meluncurkan roketnya. Bahkan upaya Cina untuk membujuk niat Korut gagal.
Langkah Korut ini dianggap Sekretaris Jendral PBB, Ban Ki-moon, menentang seruan kuat internasional dan Dewan Keamanan PBB. Sehingga menimbulkan volatilitas dan memanasnya di kawasan Asia Timur. Bahkan mengakibatkan kebuntuan untuk upaya dialog perdamaian kawasan dan stabilitas.
Penentangan Korut itu sepertinya tidak hanya ditunjukkan dengan peluncuran roket Unha-2 saja. Tetapi satelit Kwangmyongsong juga mentransmisikan lagu-lagu pujian kepada negara komunis itu dan kepada mantan pemimpinnya, Presiden Kim Il-Sung dan anaknya pemimpin Kortu sekarang Kim Jong-Il. Sepetinya lagu-lagu pujian ini tidak hanya sekedar disuarakan karena keberhasilan mengorbitkan satelitnya. Namun juga merupakan nada ejekan kepada dunia yang mengecam peluncuran roketnya.
Tidak hanya musuh bebuyutannya Korea Selatan yang panas melihat aksi Korut itu. Tetapi Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutunya telah bereaksi marah terhadap apa yang mereka pandang sebagai ujicoba rudal jarak jauh Taepodong-2 (Unha-2) dinilai sebagai langkah provokatif. Bahkan NATO juga memberikan kecaman keras.
Memang sulit untuk memastikan atau sekedar menerima kenyataan bahwa Korut meluncurkan roket hanya untuk membawa satelit ke orbit. Kemungkinannya Korea Utara ingin menarik perhatian pemerintah Obama. Tujuannya agar AS mengalihkan pandangan ke Korea Utara dan tak hanya fokus pada Iran atau hotspot politik internasional lainnya.
Secara ekonomi Korea Utara dapat diuntungkan oleh pemilikan roket jarak menengah dan jauh. Misalnya bila negara komunis itu mengekspor roketnya. Karena dimasa lalu Korut pernah kerja sama erat dengan Pakistan dan Iran. Maka diperkirakan negara komunis itu berniat menjual roket bertingkat di masa depan. Prasyarat untuk itu adalah roket Korea Utara terbukti dapat berfungsi.
Terlepas apakah peluncuran ini memang peluncuran satelit atau ujicoba rudal balistik. Tetapi peluncuran ini haruslah ditanggapi dengan kepala dingin. Meski memang sangat disesalkan.
Selain peluncuran ini jelas telah melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB yang melarang Korut untuk melakukan aktivitas peluncuran roket jarak jauh, apalagi roket tersebut terbang melewati wilayah udara Jepang. Sangat disayangkan pula bahwa Korut akhirnya meluncurkan roket ini di saat dunia masih meminta negara komunis untuk tidak melakukannya menunggu hal-hal yang dikhawatirkan bisa ditepis.
Reaksi keras negara- negara, seperti Jepang, Korsel atau AS, juga NTAO yang terlalu berlebihan, juga tak pantas dilakukan. Komentar-komentar para pemimpin negara-negara tersebut menambah semakin memanasnya situasi. Apalagi Jepang yang berniat menembak roket tersebut jika melewati wilayah udaranya. Hal ini bisa menyulut perang terbuka.
Untuk menghadapi para pemimpin 'ortodoks' seperti para pemimpin Korut membutuhkan kesabaran ekstra. Mereka memang sering melakukan hal-hal hal yang aneh bahkan diluar kepatutan. Kurang kesabaran hanya akan membuat para pemimpin Korut lepas kendali.
Sangat disayangkan jika negara-negara maju seperti Jepang dan AS terpancing dengan aksi Korut ini. Seharusnya Jepang dan AS lebih cerdik. Karena dengan reaksi yang berlebihan akan menaikan posisi tawar dalam perundingan internasional terkait program nuklir mereka. Jika sekarang Korut berhasil memancing dunia internasional dengan aksinya, maka tidak menutup kemungkinan akan melakukan lagi sebagai strategi menuju meja perundingan.*
|
[ Kembali ] | |
|
|