| |
In Memoriam Ali Alatas Selamat Jalan Singa Diplomat Indonesia |
 Ali Alatas |
Kamis, 11 Desember 2008 | 17:41 |
"Diplomasi itu seperti bermain kartu. Jangan tunjukkan
semua kartu kepada orang lain. Dan jatuhkan kartu satu
persatu".
Satu kalimat ungkapan Alex yang dipegangnya. Sehingga
menjadikan dia seorang Diplomat handal Indonesia. Bangsa
Indonesia kembali kehilangan putera terbaiknya. Tidak hanya
bangsa Indonesiayang merasa kehilangan, tapi juga dunia
internasional. Karena kemarin pukul 7.30 wib, Ali Alatas,
mantan Menteri Luar Negeri, telah dipanggil oleh Tuhan Yang
Maha Esa. Dia adalah sosok negarawan besar yang tiada
henti-hentinya memperjuangkan perdamaian dunia.
Ali Alatas, lahir di Jakarta 4 November 1932. Dia merupakan
sarjana hukum dari Universitas Indonesia dan mengantongi
ijazah dari Akademi Dinas Luar Negeri pada 1956.
Puncak kariernya adalah sebagai menteri luar negeri pada
zaman Soeharto pada 1987-1999. Di masa SBY, Ali Alatas
adalah Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres).
Alex, demikian panggilan akrabnya, selama dua dasawarsa
lebih, menunjukkan kelasnya tersendiri sebagai diplomat.
Dia adalah salah satu diplomat handal Indonesia. Suatu
bukti kehandalannya, Menetri yang duduk di empat kabinet di
era Soeharto ini, pernah mewakili Indonesia di pelbagai
meja perundingan dan jalur diplomatik. Selain itu oleh
sejumlah negara pernah dinominasikan untuk menjadi Sekjen
PBB pada tahun 1996.
Kisah hidupnya tak jauh dari diplomasi. Alex meniti
kariernya sejak dia masih usia 22 tahun. Mengawali tugas
diplomatnya sebagai Sekretaris Kedua di Kedutaan Besar RI
Bangkok dari tahun 1956 sampai 1960, sesaat setelah dia
menikah.
Sebelum terjun didunia diplomatik, sosok tokoh energik ini
sempat berkecimpung dalam dunia jurnalistik. Dia seorang
korektor Harian Niesgierf (1952). Kemudian sempat menjadi
redaktur sebuah kantor berita Aneta (1953-1954).
Karena kepiawaian dan kecerdasannya, Ali Alatas dalam
meniti karier dilaluinya dengan mulus. Selepas bertugas di
Keduber RI di Bangkok, ia kemudian menjabat Direktur
Penerangan dan Hubungan Kebudayaan Departemen Luar negeri.
Setelah itu dia ditugaskan menjadi konselor Kedutaan Besar
RI di Whasington. Lalu setelah kembali ke tanah air
berturut-turut dipercaya menjabat sebagai Direktorat
Penerangan Kebudayaan, kemudian Sekretaris Jenderal Politik
Departemen Luar Negeri dan Staf Ahli dan Kepala Sekretaris
Pribadi Menteri Luar Negeri.
Kecekatannya dalam menagani masalah-masalah yang terkait
hubungannya dengan luar negeri sangat teruji. Saat
Indonesia menghadapi kritikan mengenai Timor Timur. Dengan
kehandalan diplomasinya Ale mampu melayaninya.
Apalagi saat pecah insiden Santa Cruz yang membuat geger
dan kemarahan dunia. Peristiwa 12 November 1991 yang
menewaskan puluhan orang. Sosok diplomat yang pernah duduk
sebagai Wakil Tetap RI di PBB ini dengan cekatan dapat
meredam kemarahan dunia.
Persoalan Timur Timur misalnya, menjadikan perjuangannya
sia-sia. Ketika secara tiba-tiba Presiden BJ Habibie
memberikan persetujuan referendum. Referendum itu
memberikan opsi merdeka atau otonomi.
Menurutnya keputusan pemberian opsi yang amat naif itu
sebelumnya tanpa konsultasi dengannya. Diapun menyatakan
tidak setuju atas solusi jajak pendapat yang dicetuskan
Presiden Habibie. Karena dia merasa yakin pada solusi
diplomasi betapapun sulitnya sebuah situasi.
Saat Timor timur akhirnya lepas dari pangkuan ibu pertiwi,
matanya berkaca-kaca beberapa saat setelah referendum. Yang
lebih memilukannya, Timor Loro Sae itu rusuh dan hangus
dilalap api. Karena Keputusan presiden yang sulit
dimengertinya. Ia harus rela mengakhiri karier diplomatnya
dengan kucuran air mata.
Meski dia menyatakan mengakhiri karier diplomatnya. Tapi
tetap saja untuk pemikiran-pemikiran urusan luar negeri,
ketua Watimpres Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini
masih dilibatkan.
Pada Presiden Abdurrahman Wahid, Alatas dipercaya sebagai
penasehat. Kemudian ketika Gus Dur jatuh dan digantikan
Megawati, kembali Alex diangkat untuk menjabat Penasehat
Presiden untuk urusan Luar Negeri.
Sebagai penasehat presiden, ia telah menjalankan misi
diplomatnya ke berbagai negara, termasuk Swedia, terkait
dengan tokoh GAM Hasan Tiro. Namun aktivitasnya sebagai
penasehat presiden tidak lagi sesibuk ketika menjabat Melu.
Sehingga, ia berkesempatan mengisi waktu untuk mewujudkan
cita-cita awalnya, yaitu menjadi pengacara. Dia mengisi
waktu senggangnya dengan menjadi penasehat hukum di Biro
Pengacara Makarim & Taira's. Dan untuk mengisi waktu ia pun
menikmati hidup dengan keluarga di kediamannya di Kemang
Timur, Jakarta selatan.
Namun karena sakit jantungnya, Alex harus menginap di rumah
sakit Mount Elizabeth Hospital, Singapura. Akhirnya kemarin
pagi bangsa Indonesia kembali mendapat berita duka. Karena
sosok putera terbaiknya dipanggil Yang Maha Kuasa dan
meniggalkan kita semua. Bangsa Indonesia mengungkapkan rasa
terimakasih kepadamu, atas jasa-jasa yang telah kamu
berikan. Selamat jalan Singa Diplomat Indonesia. Semoga
Tuhan menempatkan disisinya. Amin.(Rodhi) |
[ Kembali ] | | » Berita Terkait | | Sony Ericsson Perkenalkan Sony Ericsson Xperia TM X8 | | Panglima TNI Berikan Penekanan Ulang Tentang UU Keterbukaan Informasi Publik | | Milito Bawa Inter Pertahankan Gelar | | Guru dan Warga Bojong Keluhkan Drainase Macet | |
|
|
|