Jum'at, 30/Juli/2010
HOME
 
In Memoriam Ali Alatas
Selamat Jalan Singa Diplomat Indonesia



Ali Alatas


Kamis, 11 Desember 2008 | 17:41
"Diplomasi itu seperti bermain kartu. Jangan tunjukkan

semua kartu kepada orang lain. Dan jatuhkan kartu satu

persatu".

Satu kalimat ungkapan Alex yang dipegangnya. Sehingga

menjadikan dia seorang Diplomat handal Indonesia. Bangsa

Indonesia kembali kehilangan putera terbaiknya. Tidak hanya

bangsa Indonesiayang merasa kehilangan, tapi juga dunia

internasional. Karena kemarin pukul 7.30 wib, Ali Alatas,

mantan Menteri Luar Negeri, telah dipanggil oleh Tuhan Yang

Maha Esa. Dia adalah sosok negarawan besar yang tiada

henti-hentinya memperjuangkan perdamaian dunia.
Ali Alatas, lahir di Jakarta 4 November 1932. Dia merupakan

sarjana hukum dari Universitas Indonesia dan mengantongi

ijazah dari Akademi Dinas Luar Negeri pada 1956.

Puncak kariernya adalah sebagai menteri luar negeri pada

zaman Soeharto pada 1987-1999. Di masa SBY, Ali Alatas

adalah Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres).

Alex, demikian panggilan akrabnya, selama dua dasawarsa

lebih, menunjukkan kelasnya tersendiri sebagai diplomat.

Dia adalah salah satu diplomat handal Indonesia. Suatu

bukti kehandalannya, Menetri yang duduk di empat kabinet di

era Soeharto ini, pernah mewakili Indonesia di pelbagai

meja perundingan dan jalur diplomatik. Selain itu oleh

sejumlah negara pernah dinominasikan untuk menjadi Sekjen

PBB pada tahun 1996.

Kisah hidupnya tak jauh dari diplomasi. Alex meniti

kariernya sejak dia masih usia 22 tahun. Mengawali tugas

diplomatnya sebagai Sekretaris Kedua di Kedutaan Besar RI

Bangkok dari tahun 1956 sampai 1960, sesaat setelah dia

menikah.

Sebelum terjun didunia diplomatik, sosok tokoh energik ini

sempat berkecimpung dalam dunia jurnalistik. Dia seorang

korektor Harian Niesgierf (1952). Kemudian sempat menjadi

redaktur sebuah kantor berita Aneta (1953-1954).

Karena kepiawaian dan kecerdasannya, Ali Alatas dalam

meniti karier dilaluinya dengan mulus. Selepas bertugas di

Keduber RI di Bangkok, ia kemudian menjabat Direktur

Penerangan dan Hubungan Kebudayaan Departemen Luar negeri.

Setelah itu dia ditugaskan menjadi konselor Kedutaan Besar

RI di Whasington. Lalu setelah kembali ke tanah air

berturut-turut dipercaya menjabat sebagai Direktorat

Penerangan Kebudayaan, kemudian Sekretaris Jenderal Politik

Departemen Luar Negeri dan Staf Ahli dan Kepala Sekretaris

Pribadi Menteri Luar Negeri.

Kecekatannya dalam menagani masalah-masalah yang terkait

hubungannya dengan luar negeri sangat teruji. Saat

Indonesia menghadapi kritikan mengenai Timor Timur. Dengan

kehandalan diplomasinya Ale mampu melayaninya.

Apalagi saat pecah insiden Santa Cruz yang membuat geger

dan kemarahan dunia. Peristiwa 12 November 1991 yang

menewaskan puluhan orang. Sosok diplomat yang pernah duduk

sebagai Wakil Tetap RI di PBB ini dengan cekatan dapat

meredam kemarahan dunia.

Persoalan Timur Timur misalnya, menjadikan perjuangannya

sia-sia. Ketika secara tiba-tiba Presiden BJ Habibie

memberikan persetujuan referendum. Referendum itu

memberikan opsi merdeka atau otonomi.

Menurutnya keputusan pemberian opsi yang amat naif itu

sebelumnya tanpa konsultasi dengannya. Diapun menyatakan

tidak setuju atas solusi jajak pendapat yang dicetuskan

Presiden Habibie. Karena dia merasa yakin pada solusi

diplomasi betapapun sulitnya sebuah situasi.

Saat Timor timur akhirnya lepas dari pangkuan ibu pertiwi,

matanya berkaca-kaca beberapa saat setelah referendum. Yang

lebih memilukannya, Timor Loro Sae itu rusuh dan hangus

dilalap api. Karena Keputusan presiden yang sulit

dimengertinya. Ia harus rela mengakhiri karier diplomatnya

dengan kucuran air mata.

Meski dia menyatakan mengakhiri karier diplomatnya. Tapi

tetap saja untuk pemikiran-pemikiran urusan luar negeri,

ketua Watimpres Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini

masih dilibatkan.

Pada Presiden Abdurrahman Wahid, Alatas dipercaya sebagai

penasehat. Kemudian ketika Gus Dur jatuh dan digantikan

Megawati, kembali Alex diangkat untuk menjabat Penasehat

Presiden untuk urusan Luar Negeri.

Sebagai penasehat presiden, ia telah menjalankan misi

diplomatnya ke berbagai negara, termasuk Swedia, terkait

dengan tokoh GAM Hasan Tiro. Namun aktivitasnya sebagai

penasehat presiden tidak lagi sesibuk ketika menjabat Melu.

Sehingga, ia berkesempatan mengisi waktu untuk mewujudkan

cita-cita awalnya, yaitu menjadi pengacara. Dia mengisi

waktu senggangnya dengan menjadi penasehat hukum di Biro

Pengacara Makarim & Taira's. Dan untuk mengisi waktu ia pun

menikmati hidup dengan keluarga di kediamannya di Kemang

Timur, Jakarta selatan.

Namun karena sakit jantungnya, Alex harus menginap di rumah

sakit Mount Elizabeth Hospital, Singapura. Akhirnya kemarin

pagi bangsa Indonesia kembali mendapat berita duka. Karena

sosok putera terbaiknya dipanggil Yang Maha Kuasa dan

meniggalkan kita semua. Bangsa Indonesia mengungkapkan rasa

terimakasih kepadamu, atas jasa-jasa yang telah kamu

berikan. Selamat jalan Singa Diplomat Indonesia. Semoga

Tuhan menempatkan disisinya. Amin.(Rodhi)

[ Kembali ]
» Berita Terkait
Sony Ericsson Perkenalkan Sony Ericsson Xperia TM X8
Panglima TNI Berikan Penekanan Ulang Tentang UU Keterbukaan Informasi Publik
Milito Bawa Inter Pertahankan Gelar
Guru dan Warga Bojong Keluhkan Drainase Macet

 

 
 
T-10 Tooltips v1.0
| Redaksi | Info Iklan | Terms of use | Kotak Pos |  
satuNews.com | satuRiau.com