Minggu, 05 Februari 2012
HOME
 

Kontroversi Keistimewaan Yogyakarta
Agung Laksono: Jangan Dijadikan Bara Panas



Keraton Yogyakarta (Ist)


Rabu, 15 Desember 2010 | 04:31
JAKARTA-Pemerintah berharap masalah kontroversi keistimewaan Yogyakarta jangan dijadikan “bara panas” sehingga dapat membakar emosi masyarakat.

“Kalau RUU yang diusulkan Pemerintah tidak mampu meyakinkan yang lain atau kalah suara, maka ya tidak jadi. Pemerintah juga tidak boleh kecewa. Kalau sudah kalah ya sudah,”kata Menko Kesra, HR Agung Laksono dalam bincang-bincangnya kepada para wartawan di kantornya, Selasa (14/12) sore.

Masalah keitimewaan Yogyakarta katanya bukan harga mati. Sebab masih bisa dicari formula-formula lain yang tepat. Apalagi sesama bangsa Indonesia. “Di Pemerintah juga banyak orang Jawa. Wapres Boediono sendiri orang Yogyakarta. Jadi sama-sama lah kita ini,”kata Agung.

Pemerintah katanya masih terbuka terhadap pandangan-pandangan. Bahkan sekalipun sudah menjadi draft pemerintah, itu juga belum tentu bisa dipaksakan karena sudah ada forumnya di DPR.

Kalaupun DPR menyetujui gubernur-wakil gubernur DIY dipilih oleh DPRD, rakyat Yogya masih bisa menuntut pembatalan UU tersebut di Mahkamah Konstitusi (MK).

Agung meminta rakyat Yogyakarta mempercayakan sepenuhnya kepada DPR. “Hati dingin, kepala tidak boleh panas.

Masing-masing pihak mau menonjolkan kesamaan-kesamaannya dan meredam perbedaan-perbedaan yang ada. “Perbedaan jangan dijadikan provokasi kepada masyarakat, tetapi semuanya diselesaikan di dalam persidangan,”kata Agung.

Dijelaskan nya, bahwa Formula keistimewaan Yogyakarta masih berkisar pada Posisi Sultan dipilih atau ditetapkan menjadi gubernur.

“Kalau Sultannya kan jabatan turun temurun, tetapi ketika dia menjadi gubernur, maka dia harus dipilih,”pungkasnya. (rp)






[ Kembali ]
» Berita Terkait
Dansatgas Konga XXV-D terima kunjungan Komandan Cambodia
BI Akui Rupiah Tak Bisa Melawan Krisis Ekonomi Global
Rita Subowo Puas Atlet Indonesia Lampaui Target
Indonesia Kalah 0-1 dari Malaysia

 

 
 
T-10 Tooltips v1.0
| Redaksi | Info Iklan | Terms of use| Kotak Pos|  
satuNews.com | satuRiau.com